√ Apa Hukum Onani Dalam Islam?kamu Harus Tau!

Onani dalam Agama islam itu haram .berdasarkan dalil Qur’an dan Hadits.
Pertama : Al-Qur’an Al-Karim
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Imam Syafi’i & orang yg sependapat dgn beliau telah berdalil akan pengharaman onani memakai tangan dengan ayat Firman Allah ini:

والذين هم لفروجهم حافظون . إلا على أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم فإنهم غير ملومين . فمن ابتغى وراء ذلك فأولئك هم العادون ) 4-6 سورة المؤمنون

“dan orang2 yg menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka /budak yg mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang2 yg melampaui batas. {QS. Al-Mukminun: 5-7}

Baca juga : hukum menembok makam

Syafi’I dalam kitab Nikah mengatakan, “Penjelasan dgn menyebutkan menjaga kemaluanya kecuali kepada istri2 /budak yg mereka miliki. Menunjukkan pengharaman selain istri & budak yg dimiliki. Kemudian dikuatkan dgn firmanNya “Barangsiapa mencari yg di balik itu maka mereka itulah orang2 yg melampaui batas.” Tidak dihalalkan melakukan sesuatu di kemaluan kecuali istri / budak yg dimiliki. & tidak dihalalkan beronani. Wallahua’lam ‘Kitab Al-Umm karangan Imam Syafi’i.

ilustrasi pic source google image

Sebagian ahli ilmu berdalil dengan firman Allah Ta’ala:

( وَلْيَسْتَعْفِفْ الَّذِينَ لا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمْ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ) النور 33
“Dan orang-orang yg tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.” QS. An-nur: 33.
hadis lain juga menjelaskan
Mereka berdalil dengan hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu berkata:

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَبَابًا لا نَجِدُ شَيْئًا فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءةَ ( تكاليف الزواج والقدرة عليه ) فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ ( حماية من الوقوع في الحرام ) رواه البخاري فتح رقم 5066

“Kita para pemuda bersama Nabi sallallahu alaihi wa sallam tidak mendapatkan sesuatu. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam mengatakan kepada kita, “Wahai para pemuda siapa yg mampu ba’ah (biaya pernikahan dan kemampuan akan hal itu) maka hendaknya dia menikah. Karena ha itu dapat menahan pandangan &menjaga kemaluan. Siapa yg tidak mampu hendaknya dia berpuasa karena hal itu menjadi tameng (tameng terjatuh dari yg diharamkan).” HR. Bukhori, Fathul Bari no. 5066.

Syareat yang baik adalah memberi arahan ketika tidak mampu menikah agar berpuasa meskipun dgn kesulitannya. Tanpa mengarahkan ke onani padahal pendorong yg kuat ke arah itu & ia lebih mudah dibandingkan berpuasa. Meskipun begitu tidak diizinkan.

Info Terkait !!