Menyembunyikan Ilmu Termasuk Dosa Besar

TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 159-161


Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَـٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّـهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ ﴿١٥٩﴾

“Sesungguhnya orang-orang yg menyembunyikan apa yg Kami telah turunkan dari keterangan dan hidayah setelah Kami jelaskan ia kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu orang-orang yg dilaknat oleh Allah & dilaknat oleh semua yg bisa melaknat.”

Di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ancaman kepada setiap orang yg menyembunyikan ilmu setelah menjadi jelas kepada kepada dia ilmu tersebut. Maka ayat ini menunjukkan bahwa menyembunyikan ilmu tanpa ada alasan yg syar’i, termasuk dosa yg besar. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللَّهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ

“Siapa yang ditanya tentang suatu ilmu lalu ia menyembunyikannya, maka Allah akan berikan penutup mulut pada hari kiamat dari api neraka.” (HR. Abu Dawud)

Baca Juga: ✪ orang yang mulia dan orang yang hina

Kecuali -kata para ulama- apabila kita menyampaikan ilmu justru timbul mudharat yg lebih besar. Maka pada waktu itu tidak apa-apa kita tidak sampaikan. Hal ini sebagaimana Abu Hurairah berkata:

حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وِعَاءَيْنِ ، فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَبَثَثْتُهُ ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَلَوْ بَثَثْتُهُ قُطِعَ هَذَا الْبُلْعُومُ

“Aku menghafal dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dua bejana. Adapun satu bejana sudah saya sampaikan kepada manusia. Untuk bejana yg kedua, andai saya sampaikan kepada kalian maka bisa jadi leharku akan dipenggal.” (HR. Bukhari)

Apa yg dimaksud hadits yang Abu Hurairah tidak sampaikan?

Yaitu hadits-hadits tentang fitnah Bani Umayyah yang waktu itu Abu Hurairah bertemu massa Yazid Bin muawiyah di mana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan akan adanya anak-anak yang menjadi khalifah. Maka Abu Hurairah tidak mau menyampaikan itu karena khawatir malah timbul fitnah. Maka ini menunjukkan bahwa kalau dikhawatirkan ketika kita sampaikan ilmu itu malah timbul fitnah, lebih baik jangan.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika bersabda kepada Muadz bin Jabal, “Tahukah kamu apa hak Allah atas hambaNya dan apa hak hamba atas Allah?” Kata Rasulullah, “Hak hamba atas Allah, Allah tidak akan mengazab siapapun yang tidak mempersekutukan Allah sedikitpun juga.” Apa kata Muadz?

يَا رَسُوْلَ اللهِ ، أَفَلَا أُبَشِّرُ النَّاسَ ؟
“Boleh tidak ya Rasulullah saya sampaikan hadits ini?”

Kata Rasulullah:

لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوْا

“Janganlah kausampaikan kabar gembira ini kepada mereka sehingga mereka akan bersikap menyandarkan diri” (HR. Bukhari, Muslim dan yang lainnya)

Karena Nabi khawatir hadits ini disalahpahami, maka Nabi mengatakan kepada Muadz untuk tidak menyampaikannya. Berarti diperbolehkan tidak menyampaikan ilmu kalau memang ketika kita sampaikan malah menimbulkan mudharat yang lebih besar. Maka -kata para ulama- tidak setiap ilmu bisa kita sampaikan kepada setiap orang.

Kata Syaikh Utsaimin rahimahullah, dari ayat ini kita ambil beberapa faidah:

MENYEMBUNYIKAN ILMU TERMASUK DOSA BESAR


Kenapa? Karena pelakunya dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh semua yang bisa melaknat. Syaikhul Islam yang kedua yaitu Ibnul Qayyim Rahimahullah, bahwa di antara tanda dosa itu disebut dosa besar, bahwa pelakunya dilaknat.

Contoh, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Semoga Allah melaknat pemakan riba, orang yang menyaksikan riba, orang yang menulisnya, mereka semua sama terkena laknat.” Berarti itu menunjukkan bahwa itu dosa besar. Dalam ayat ini Allah menyebutkan bahwa orang yang menyembunyikan apa yang Allah turunkan berupa keterangan dan hidayah, mereka dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh semua yang bisa melaknat.

AYAT INI MEMBANTAH FIRQAH JABARIYAH
Siapa firqah Jabariyah itu?

Firqah Jabariyah adalah kelompok yang punya keyakinan bahwa manusia tidak mempunyai kemampuan, manusia tidak punya kehendak, manusia hanya mengikuti takdir saja. Jadi menurut orang-orang Jabariyah kalau ada orang berbuat maksiat, “Yaudah bagaimana lagi ini sudah takdir.” Sehingga pelaku maksiat tidak boleh dihukum. Karena itu sudah takdir.

Baca Juga: ✪ manusia yang paling beruntung pada hari kiamat

Kata para ulama ini bisa merusak semua peraturan. Sebab kalau setiap orang yang melanggar peraturan tidak boleh dihukum gara-gara sudah takdir, buat apa dibuat peraturan?

Pada ayat ini Allah mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang yg menyembunyikan.” Lihat! Allah menisbatkan kata menyembunyikan kepada manusia. Jadi, manusia mempunyai qudrah (kemampuan dan kehendak) untuk melakukan kemaksiatan. Ketika seseorang berbuat maksiat dengan keinginan dia padahal dia mampu untuk meninggalkan maksiat, maka Allah tidak dzalim kalau Allah memberikan adzab kepada orang tersebut.

source:rodja

Info Terkait !!