√ Penjelasan Tentang Beriman Kepada Takdir

semuanya yang diketahui Allah Subhanahu wa Ta’ala ditulis di Lauhul Mahfudz. Dan tidak seorangpun yang mengetahui apa yang tertulis. Sampai pun para Malaikat tidak mengetahui, begitu juga para Nabi yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka tidak mengetahui hal itu.

Beriman Kepada Takdir


Begitu juga kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang meliputi seluruh makhlukNya yg tidak terbatas serta ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apa yang diciptakan oleh Allah, apa yang ingin diciptakan, apa yg belum diciptakan & yg akan diciptakan oleh Allah. Semua itu adalah rahasia ilmu Allah yg hanya diketahui Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Sehingga apabila seseorang memaksakan dirinya untuk mendalami lebih jauh, meneliti lebih dalam hanya berlandaskan akal semata logika, maka sungguh dia tidak akan bisa mengetahui hal itu bahkan itu merupakan sebab yg akan menjerumuskan ia dalam kehinaan. Dan juga merupakan tangga demi tangga yg dia akan lewati, yg akan dia lalui, yg akan menjerumuskan dia dalam hal-hal yg terlarang / kesesatan.


Baca Juga: haram? hukum menjual buah-buahan sebelum matang


Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak boleh ditanya tentang perbuatannya kenapa Allah menciptakan. Adapun manusia, merekalah yang akan diminta pertanggung jawaban terhadap perbuatan mereka. Mereka akan ditanya, kenapa melakukan hal itu, apa tujuannya dan apa landasannya.
Karena hal demikian itu merupakan sikap yg telah melampaui batas. Maka kata beliau, hendaklah kita waspada dan berhati-hati jangan sampai kita mendalami dan meneliti perkara tersebut terlampau jauh atau melampaui batas yang telah digariskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala baik secara pikiran, penelitian atau apa yang ada dalam jiwa kita berupa was-was yang itu merupakan sikap yg ditanamkan oleh iblis dalam diri manusia sehingga menjadikan seseorang ragu dan bimbang.

Beriman Kepada Takdir ALLAH


Maka dalam aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak boleh didalam memahami pembahasan takdir kita bertanya dengan redaksi:
kenapa Allah menghendaki hal ini?
kenapa Allah menciptakan?
kenapa Allah melakukan?
Itu adalah pertanyaan yang tidak diperbolehkan. Pertanyaan tentang perbuatan Allah. Allah mengatakan:

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ ﴿٢٣﴾

“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS. Al-Anbiya[21]: 23)

Maka kata Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi Rahimahullah, barangsiapa yang menyelisihi lalu dia bertanya “kenapa”, itu sama saja artinya menolak hukum Al-Qur’an, maka konsekuensinya barangsiapa yang menolak hukum Al-Qur’an maka dia termasuk ke dalam orang-orang yang kafir.


Baca Juga: inilah,Golongan orang kaya yang masuk neraka


Yang pertama, bahwa beriman kepada takdir terbagi pada dua macam. Beriman secara global dan beriman secara terperinci. Secara umum, wajib kita mengimani bahwa segala sesuatu dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak satupun yang terjadi, baik itu suatu kebaikan atau kejelekan, semua itu dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Maka wajib kita imani bahwa segala sesuatu yg terjadi di permukaan bumi ini, baik yg telah terjadi, yg sedang terjadi & yg akan terjadi, semua itu tidak keluar dari takdir Allah dan bila hal itu terjadi, itu pasti Allah telah menghendaki kejadian/ terjadinya hal tersebut. Itu kita imani.


Yang kedua, beriman kepada takdir secara terperinci yaitu mengimani semua yg tertera di dalam Al-Qur’an dan hadits yang berkaitan dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Diantaranya yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadits, maka kita imani.


Baca Juga: hukum menyimpan jimat dan rajah


Dalam hal ini ada baiknya kita jelaskan terlebih dulu hakikat takdir. Yang dimaksud beriman kepada takdir adalah bahwa kita mengimani Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui segala sesuatu sebelum hal itu terjadi, segala sesuatu itu telah tertulis di Lauhul Mahfudz, kemudian segala yang terjadi telah dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan itu semua termasuk ke dalam ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah secara global atau secara umum makna dari takdir. Sehingga dari definisi tadi kita memahami bahwa beriman kepada takdir itu mencakup dua tingkatan. Tingkatan yg pertama, yaitu sebelum penciptaan. & tingkatan yg kedua adalah setelah penciptaan.

Sebelum penciptaan, kita mengimani bahwa Allah telah mengetahui segala sesuatu. Sebelum Allah menciptakan seluruh makhluk di langit dan di bumi, Allah telah mengetahui. Dan yang telah Allah ketahui tersebut itu, ditulis di Lauhul Mahfudz sebelum penciptaan. Kemudian bila hal itu terjadi, maka itu semua dengan izin Allah dan dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.

source:rodja

Info Terkait !!